OASEksplorasi 2017 – Keberangkatan

Akhirnya, dua minggu setelah perjalanan eksplorasi aku sempat duduk manis untuk menulis dan membagikan berbagai pengalaman yang aku dapatkan selama di Pulau Harapan sebagai bagian dari OASEksplorasi 2017.

Apa Itu OASEksplorasi?

OASEKSPLORASI adalah salah satu kegiatan dari Klub Oase yang bernaungan di bawah Pramuka Oase. Nama EKSPLORASI sendiri adalah singkatan dari EKSpedisi dan PetuaLangan Oase RemajA di indoneSIa (Baca Info lebih lanjut).

Tahun lalu kami sudah pernah menjalankan sebuah Ekspedisi ke Dusun Maitan dan Desa Palbapang yang berada di Yogyakarta. Kami ber-9 melakukan ekspedisi untuk mempelajari seputar pangan lokal namun biaya maupun persiapan kegiatan diurus oleh orang-tua dan mentor.

Perjalanan OASEksplorasi tahun lalu: OASEksplorasi 2016 1-8

Berbeda dengan perjalanan tahun lalu, kali ini kami mendapatkan tugas untuk mencari sendiri dana dan mengurus kegiatan serta perjalanan menuju tujuan ekspedisi tahun ini. Tahun ini juga kami harus menyiapkan sebuah karya yang kami pilih sendiri sebagai hasil perjalanan.

Sekarang lanjut ke jurnal perjalanan!

Pengumpulan Dana Pasukan: OFEST 2017

Hasil karya personal: OUTPUT OASEksplorasi 2017

Keberangkatan

Waktu menunjukkan pukul 04:30 ketika aku bangun pada hari keberangkatan kami. Aku akan berangkat bersama Tata dan dua mentor “Kak” Lala dan “Kak” Andito menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Tas yang sudah disiapkan dengan segala peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan ada di ruang tamu dan kami siap berangkat.

Berbeda dengan eksplorasi sebelumnya, aku tidak terlalu takut maupun gugup pada perjalanan menuju lokasi. Mungkin campuran dari persiapan yang lebih matang, pengalaman eksplorasi sebelumnya, atau karena aku adalah salah satu tim survey yang sudah pernah ke sana 😛

Kami berempat berangkat menggunakan kereta menuju Stasiun Jakarta Kota sebelum akhirnya naik ojek online untuk menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Kami akan berangkat menggunakan kapal Sabuk Nusantara 66 (Sanus 66), salah satu Tol Laut yang menyambungkan berbagai pulau yang ada di Indonesia.

Untuk kami tim yang telah melakukan survey kemarin, suasana kapal besi ini sudah tidak asing lagi. Mulai dari kursi-kursi paling nyaman serta kasur yang paling dingin sudah kami ketahui. Kondisi kapal pagi ini lumayan ramai karena ada beberapa rombongan lainnya yang juga menggunakan fasilitas kapal ini.

Mengapung diatas laut

Waktu menunjukkan pukul 9 ketika kapal membunyikan peluit besarnya dan kami berangkat menuju lokasi tujuan kami, Pulau Kelapa. Kenapa aku bilang Pulau Kelapa bukan Pulau Harapan? Karena kapal Sanus 66 hanya berhenti dan menurunkan penumpang di Pulau Untung Jawa, Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa. Dari Pulau Kelapa kami akan berjalan sekitar 1-2 km sebelum akhirnya sampai di Pulau Harapan.

Selama perjalanan di atas kapal besi ini, kami mendapatkan sebuah tugas untuk melakukan wawancara dengan salah satu penumpang kapal yang lain. Karena aku bangun lebih pagi dari biasanya, aku memilih untuk beristirahat dan tidur terlebih dahulu untuk mengisi energi di bagian bawah kapal yang berisi lebih dari 40 tempat tidur yang dingin dan nyaman.

Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas ketika aku terbangun oleh suara nyaring peluit kapal yang menandakan kedatangan di pemberhentian pertama, Pulau Untung Jawa. Sebelumnya aku pernah pergi ke pulau ini bersama dengan Kaysan dan Kak Shanty dalam rangka melakukan pengamatan burung di Pulau Rambut.

Read More: Pulau Rambut

Rombongan Jaringan Doa

Ketika berkeliling kapal untuk membangunkan diri, aku melihat ada seorang bapak-bapak menggunakan topi dengan visor penahan matahari, kaos putih, dan celana pendek yang sedang selfie-selfie. Karena merasa bahwa bapak-bapak ini tidak terlihat galak maka aku mendorong diri untuk berbincang dengan bapak ini.

Bapak ini adalah Pak Ekel, salah satu member dari “Jaringan Doa Se-Kota Jakarta Utara” dan pengurus perjalanan mereka yang kali ini. Pak Ekel dan rombongan 30 orangnya sedang akan liburan dua hari satu malam di Pulau Pramuka.

Sambil berbincang panjang lebar dengan Pak Ekel, beberapa temanku serta teman Pak Ekel ikut meriung dan mengobrol santai di deck kapal besi ini. Kami berbagi cerita seputar kegiatan homeschooling yang kami jalani, Pak Ekel dan kawan-kawannya bercerita tentang pengalaman mereka berkeliling Indonesia dengan kapal ketika sedang merantau.

Angin sepoi-sepoi dan hangat matahari pagi digabungkan dengan berbagai cerita dan candaan lucu yang terjadi pada saat mengobrol santai ini membuat waktu berjalan dengan sangat cepat karena pada akhirnya peluit kapal yang nyaring sekali lagi bertiup untuk menandakan bahwa Sanus 66 telah sampai di tujuan keduanya, Pulau Pramuka.

Setelah kapal selesai menurunkan penumpang di Pulau Pramuka dan kembali jalan menuju tujuan akhir, Pulau Kelapa, aku menuliskan hasil obrolan tadi dan bersiap untuk mendapatkan berbagai pengalaman baru lain dari Pulau Harapan.

Taman Nasional Kepulauan Seribu dan PKBM

Kapal Sabuk Nusantara 66 sampai di tujuan akhirnya, Pulau Kelapa, pada pukul setengah dua siang, kurang lebih sesuai jadwal. Turun dari kapal kami berterima kasih kepada staff kapal sebelum akhirnya turun untuk jalan menuju tempat kumpul kami, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS).

Perjalanan dari pelabuhan Pulau Kelapa menuju Balai TNKpS lumayan jauh dan kami melewati sebuah jalan panjang yang dibuat dari tanah reklamasi untuk menyambungkan kedua pulau yang jaraknya dekat ini.

Sebelum sampai di Balai TNKpS, kami diberhentikan oleh seorang teman dari Ibu dan Bapak yang kemarin juga sangat membantu kami ketika sedang survey, Om Aji. Om Aji adalah pengurus dari PKBM di kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Kami diberikan jus jeruk yang dingin dan lezat, namun sayangnya jusnya disajikan dalam botol plastik. Jika ini adalah perjalanan trip biasa mungkin ini tidak terlalu mengganggu, tapi bagi kami yang sudah siap mental untuk zero-waste selama di Pulau Harapan, ini lumayan menggugah hati.

Selesai berbincang sebentar dengan Om Aji dan menyelesaikan jus dingin yang lezat ini, kami melanjutkan perjalnan menuju Balai TNKpS. Lokasinya tidak jauh dari jalan yang menyambungkan kedua pulau dan bangunan ini berada di sisi selatan pulau. Salah satu hal yang sangat terasa di sini adalah semua jalan yang ada di pulau ini sangatlah kecil dan berliku. Dua motor saja sudah sangat susah untuk lewat.

Ketika sampai di lokasi, kami disambut oleh petugas balai yang telah kami temui kemarin ketika sedang survey. Kami mendapatkan makan siang yang lezat serta pengarahan untuk kegiatan tiga hari ke depan. Kami juga diperkenalkan ke Keluarga Inang yang akan “mengangkat” kami menjadi anak mereka selama tiga hari kedepan. Aku, Ziel, dan Aza akan tinggal di rumah Pak Bahari.

Jadi Tour Guide

Waktu menunjukkan pukul tiga tepat ketika kami mulai berangkat untuk melakukan eksplorasi dan orientasi pulau. Karena aku sudah pernah melakukan survey pulau ini, aku merasa lumayan nyaman dengan pengetahuan seputar arah pulau yang kecil ini. Jadi aku mengajak teman satu kelompokku untuk mengelilingi pulau dan membuktikan bahwa kita bisa mengelilingi pulau kurang dari waktu 40 menit.

Sampai di dekat dermaga, kami bertemu dengan beberapa kelompok lain dan kami akhirnya berkeliling pulau bersama. Selama berkeliling aku berada di depan dan menceritakan apa yang aku ketahui tentang titik itu. Pada akhirnya aku menjadi seperti Tour Guide Pulau Harapan :”)

 

Keluarga Inang

Salah satu perjanjian yang kami setujui ketika membuat peraturan bersama adalah kami tidak boleh keluar rumah setelah pukul enam sore kecuali ada perjanjian dengan mentor dan orang tua inang. Aku dan kelompokku tinggal di kediaman pak Bahari selama beberapa hari ini. Kelompokku tidur di area ruang tamu yang telah diberi kasur. Tepat didepan kasur adalah TV yang hampir selalu menyala setiap saat.

Salah satu kegiatan yang aku lakukan selama di rumah inang adalah menonton sambil mengobrol dengan anggota keluarga. Tontonan yang hampir selalu ditonton ketika sedang makan malam adalah The Voice Kids Indonesia: Battle Round.

Malam ini kami makan ikan goreng dengan nasi dan sayur. Ikut makan bersama kami adalah anak paling muda dari keluarga ini, Kohar, Ibu asuh kami, Bu Umamah, dan keponakannya dari Jakarta, Mas Lukman. Sambil makan malam dan menonton Battle Round: Agnes Monika, kami berbincang tentang berbagai keseharian keluarga dan bercerita tentang kegiatan kami.

Sayangnya malam ini Pak Bahari belum pulang dari Pulau Sebira mengantar tukang AC yang ada keperluan disana. Info: Pulau Sebira adalah salah satu pulau paling jauh dari Pulau Harapan dan perjalanan kesana bisa memakan waktu sekitar 4 jam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *