OASE Eksplorasi: Pantai Depok, Mie Letheg, Ganjuran & Tahu Pong

“Arghhh jangan… yak bagus bagus bagus.. arkh keambil… tidak jangan…. aaahh sayang sekali”, suara yang bisa didengar di rumah Bu Gun ketika kami sedang menonton final AFF dan melihat Indonesia kalah 2-0 melawan Thailand.

(Sebelumnya: Goodbye Maitan, Hello Ngringinan)

Pantai Depok here we go!

Pukul tujuh pagi kami kumpul di homebase tempat kakak-kakak fasilitator dan yang perempuan menginap untuk melakukan perjalanan ke Pantai Depok. Kami akan berangkat naik sebuah Angkudes (Angkutan Desa) yang sudah disewa seharian. Sebelum berangkat kami di briefing sedikit plus menunggu yang lain untuk datang dan berangkat sekitar 15 menit sebelum pukul 8.

Perjalanan menuju Pantai Depok lumayan jauh, selama perjalanan kami mengobrol didalam Angkudes yang sangat cepat. Di tengah jalan aku mampir dulu di toko untuk membeli bolpen karena bolpen yang aku pakai sudah habis.

Suasana di pantai sangatlah tenang, sudah lumayan lama aku tidak melihat cakrawala. Walaupun di pantai kami sayangnya tidak berenang karena ombaknya tinggi hingga ada beberapa orang yang terbawa hanyut. Aku memilih untuk mencari tahu tentang Ikan-ikan yang dijual di sini.

Day6-1

Mewawancarai pak Yudha

Kami memilih untuk pergi ke Pasar yang lokasinya ada di sisi utara pantai. Pasarnya masih sepi karena kami datang lumayan pagi. Aku melihat pasarnya kurang lebih sama seperti yang di Jakarta, meja dari keramik dan tempat untuk menyimpan ikan dibelakang meja dengan keran untuk membersihkan ikan.

Di sana aku melihat berbagai jenis ikan seperti Baracuda, Cucut, Cakalang, Pari, dan satu ikan yang membuatku sangat kaget yaitu… ikan Hiu! Seingatku ikan hiu adalah sebuah ikan yang dilindungi oleh pemerintah jadi aku agak kaget. Salah satu hal lain yang juga membuatku kaget adalah ikan yang dijual di pasar ini datangnya bukan dari sini! Mereka mengambil semua ikannya dari Semarang di utara.

Lalu ikan-ikan yang ada disini dibawa kemana? Mereka dibawa ke Jakarta lewat TPI Koperasi “Mina Bahari 45”. Lokasi TPI ini tepat di tengah area Pantai Depok tidak jauh dari tempat parkir. TPI dibuka pukul 10 dan mereka mulai menimbang ikan-ikan yang sudah datang. Ketika aku datang mereka sedang menimbang dan memindahkan lele laut dengan jumlah kurang lebih 30 kg.

Menurut mas Yudha setiap hari bisa ada 20-30 orang yang berlayar dan mereka biasanya akan berangkat sore hingga malam dan pulang dari pukul 10-4 sore. Yang didapat bisa beragam dari lele laut ke hiu ke kepiting. Yang aku baru tahu adalah ternyata yang memulai menjadi nelayan adalah orang Cilacap! Mereka memulai lalu orang lokal yang awalnya petani memulai berlayar.

Wefie di dalam Angkudes

Wefie di dalam Angkudes

Mie Letheg

Setelah kami selesai di Pantai Depok kami kembali naik Angkudes khusus kami dimana kami ya… seperti yang aku tulis di tulisan sebelumnya agak kurang waras. Waktu sudah mau mendekati pukul dua belas dan perut sudah mulai lapar. Tujuan selanjutnya adalah untuk mencoba sendiri Mie Letheg lalu melihat seperti apa pabriknya.

Kami sampai di warung untuk makan mie letheg sekital pukul setengah dua belas. Aku memesan Mie Letheg Goreng dan… aku mungkin ada menunggu 45 menit sebelum makanannya akhirnya keluar. Perut yang sudah keroncongan dan melihat teman-teman yang pesan Mie Letheg Rebus sudah mendapatkan makanan mereka. Untungnya rasa mienya sangat enak jadi rasa kesal dan laparnya langsung tersiram oleh rasa mie yang kenyel dan sehat.

Sama halnya dengan tulisan tentang rumah ketela, aku tidak akan menulis tentang perjalanan di pabrik Mie Letheg karena aku ingin membuat sebuah tulisan khusus tentang itu. Maka untuk sekarang lihat fotonya dulu aja ya 😀

Mendengarkan cerita dari pak Feri

Mendengarkan cerita dari pak Feri

Gereja Ganjuran

Salah satu hal yang kemarin telah diobrolin selama diskusi adalah Misa untuk teman-teman yang katolik seperti Andro, Donna dan Yla. Di deket Ngringinan ada sebuah gereja yang lumayan terkenal bernama Gereja Ganjuran. Katanya banyak orang dari berbagai negri dan agama datang untuk melihat candi dan merasakan air sucinya. Karena sore ini akan ada arak-arakan salib sebagai bagian dari sebuah acara maka mereka memilih untuk mengikuti misa yang malam ini.

Aku tertarik untuk melihat seperti apa sih misa itu dan merasakan suasana yang ada disana. Kami semua (kecuali Ceca) akhirnya memilih untuk mengikuti Andro, Donna dan Yla untuk ke Ganjuran, setidaknya untuk mengambil air suci.

Suasana ketika berada di Ganjuran sangatlah tenang, tidak setenang di vihara tapi lumayan tenang. Kami masuk dan melihat agak lewat jalan belakang, mungkin agar tidak mencolok perhatian karena kami juga membawa Adinda yang berjilbab.

Di Gereja Ganjuran

Di Gereja Ganjuran

Setelah mengambil air suci dan merasa cukup melihat seperti apa itu misa, kami keluar untuk membeli tahu pong yang enak nya ENAK sekali. Baru pertama kali aku makan tahu dengan bumbu seenak ini. Harganya tidak mahal lagi. Aku, Kaysan, Fattah, Zaky dan Adinda makan tiga porsi tahu pong dan rasanya masih kurang.

Ketika sampai di tempat Bu Gun kami melihat Ceca sedang mempreteli jagung sambil menonton AFF final. Indonesia vs. Thailand. Aku biasanya tidak mengikuti bola, namun pada saat eksplorasi rasanya kesemangatan teman-teman yang memang mengikuti membuat aku suka dengan bola :3. Sayangnya Indonesia kalah 2-0 menyebabkan kalahan untuk Indonesia di babak final.

Tempe bersama bu Cicil

Setelah teman-teman yang misa telah selesai dan bu Cicil sudah siap, kami berangkat ke tempat bu Cicil dengan keadaan setengah tidur :P. Kegiatan non stop dari pagi hingga malam membuat sebagian besar dari kami sudah kehabisan batre untuk berkegiatan.

Bu Cicil dulu adalah seorang pekerja NGO yang sekarang sering di kenal sebagai Master Tempe karena sudah banyak sekali teman-teman bu Cicil yang vegan untuk menjadi pengganti daging. Bu Cicil juga memberi tahu bahwa tempe tidak harus hanya dari kedelai saja. Aku pernah dengar dan mencoba tempe yang terbuat dari kacang koro, tapi aku baru tahu bahwa tempe ternyata bisa dibuat dari Kecipir, Kacang Tanah, bahkan teman-teman bu Cicil yang tinggal di daerah subtropis pernah membuat tempe dari Almond, Walnut, bahkan Beras.

Pada saat ini setengah anak sudah tumbang setengah tertidur maka bu Cicil menyelesaikan sesi malam ini agar besok pagi bisa mulai lagi dengan kuat untuk mulai membuat tempe.

Belajar dasar-dasar membuat tempe bersama bu Cicil

Belajar dasar-dasar membuat tempe bersama bu Cicil

[Bersambung]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *