OASE Eksplorasi: Malam Terakhir

“Ternyata enak juga bikin tempe pake kaki” adalah quote dari salah satu anak eksplorasi ketika mereka sedang mengupas kulit ari dari kedelai untuk membuat tempe di tempat bu Cicil.

(Sebelumnya: Pantai Depok, Mie Letheg, Ganjuran & Tahu Pong)

Endorser Air Kangen

Pagi ini aku bangun sekitar pukul setengah enam dan langsung disapa oleh orang tua asuh. Beberapa hari ini aku mengobrol banyak dengan pak Slamet dan bu Slamet, mereka dulu buruh di Jakarta yang sudah pensiun. Mereka tidak punya anak jadi mereka selalu senang jika ada yang menginap, dan mereka sangatlah ramah.

Ketika sedang membantu bu Slamet memasak aku melihat bahwa ada jirigen air kangen. Aku lalu bertanya, “Pak bu, pernah minum air kangen?” Lalu dijawab dengan semangat bahwa mereka pernah dapat air kangen dari saudara mereka tapi tidak tau khasiatnya apa. Karena kata-kata itu aku langsung ingat semua pengetahuan yang telah diceritakan oleh om Andit tentang air kangen dan aku memberi tahu mereka sambil sarapan nasi goreng dan telor ceplok. Sangking serunya mengobrol kami hampir telat berangkat 😛

Tempe Rasa Kaki

Pukul delapan kami berkumpul di rumah bu Cicil untuk mempelajari step-step membuat tempe. Berikut adalah cara step to stepnya:

  1. Kedelai dicuci lalu di rendam 6-10 jam
  2. Setelah berbusa di rebus hingga 5-10 menit setelah mendidih
  3. Tiriskan lalu dinginkan
  4. Pembersihan kulit arinya
  5. Direndam lagi 6-10 jam hingga berbusa lagi
  6. Rebus hingga 30 menit setelah mendidih
  7. Tiriskan ke Rombi & di ratakan agar uapnya naik
  8. Di beri ragi usar
  9. Tunggu 5-10 agar raginya menyambung
  10. Di bungkus menggunakan daun pisang atau plastik lalu ditunggu tiga hari sampai putih

Sekarang kita sedang berada di step empat dimana kita membersihkan kulit arinya. Sebenarnya bisa membersihkan menggunakan tangan namun kalau menggunakan tangan bisa memakan waktu yang jauh lebih lama. Aku pernah dengar bahwa pembuatan wine juga diinjek-injek namun aku tidak kebayang bahwa tempe pun juga diinjek. Tentu saja setelah diinjek dicuci bersih lagi lalu direbus lagi agar tidak ada kumannya.

Peralatan dan alat yang dipakai untuk membuat tempe

Peralatan dan alat yang dipakai untuk membuat tempe

Ketika menginjak kedelai rasanya agak lengket tapi enak gimana gitu :3. Kami semua ganti-gantian menginjak kedelainya karena semuanya pengen mencoba 😀 Untuk kali ini kami menggunakan kedelai hitam yang biasa dipakai untuk kecap.

Setelah kami selesai menginjak dan merebus kembali kami akan kelilingin Ngringinan dulu sambil menunggu 6-10 jam direndam lagi.

Sorgum, Gandum Indonesia

Karena mendengar dari pak Ari di Rumah Ketela tentang Sorgum, gandumnya Indonesia, aku sangat tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut. Untungnya suami bu Cicil, pak Gun (lagi) sedang mengeringkan Sorgum di belakang. Kelompok ku mewawancarai pak Gun duluan seputar Sorgum dan sawahnya sendiri. Sorgum atau Cantel bisa digiling menjadi tepung untuk menggantikan Gandum. Sorgum juga bisa jadi pengganti nasi jika diolah dengan benar. Sorgum memiliki tiga warna: Hitam, Putih dan Merah.

Pak Gun selain bertani juga memiliki peternakan(?) lebah untuk mengumpulkan madu. Pak Gun memiliki 5 sarang lebah yang bisa dipanen. Setiap enam bulan pak Gun bisa menghasilkan sekitar 16 botol madu.

Mengamati dan mencoba memegang sorgum yang sedang dikeringkan

Mengamati dan mencoba memegang sorgum yang sedang dikeringkan

Tahu Normal vs. Tahu Steam

Setelah selesai di tempat Pak Gun kami pergi untuk mencari home industry tahu. Katanya ada dua yang lokasinya tidak jauh satu sama lain jadi kami bertanya ke orang sekitar. Mungkin ada yang rusak dengan kemampuan navigasiku hari ini jadi akhirnya kami nyasar muter muter gak jelas. Kami baru bisa menemukan ketika kami di tegur sama kak Melly karena muter muter.

Ternyata tempatnya sudah kami lewati lebih dari tiga kali dan kami belum sadar-sadar jadi ya… maklum capek :P. Di tempat yang pertama kami bertemu dengan pak Dwi. Dia memasak tahu menggunakan tungku seperti biasa. Kedelai yang di gunakan disini adalah kedelai impor karena katanya lebih putih. Karena aku ingin membuat perbandingan antara tahu dengan cara conventional dan tahu dengan cara baru aku membeli setengah kotak yang dipinjamkan oleh kakak-kakak fasilitator.

Kelompok perempuan mewawancarai pak Muji

Kelompok perempuan mewawancarai pak Muji

Tempat selanjutnya adalah tempat Pak Muji saudara dari pak Dwi. Pak Muji membuat tahu dengan cara yang bisa dibilang agak aneh. Bukannya memasak tempenya langsung dari api seperti biasa dia menggunakan uap air yang disalurkan ke tungku untuk memasak tahunya. Kedelai yang di gunakan disini juga kedelai impor namun dengan alasan yang berbeda. Kalau pak Muji lebih menyukai pakai kedelai lokal karena rasanya lebih enak, namun kedelai lokal masih kurang stabil jadi susah untuk bisnis.

Yang membuat aku kagum adalah harga tahu Pak Muji dan Pak Dwi sama persis walaupun punya pak Muji perlu modal yang lebih mahal. Kalau di tempat pak Dwi satu truk bahan bakar bisa mencukupi untuk tujuh hari, di tempat pak Muji satu truk hanya bisa mencukupi untuk 3 hari. Dari sisi rasa pun lebih enak punya pak Muji karena punya pak Dwi ada seperti rasa asam asapnya gitu.

Nasi Bakar Organik Maknyuss

Setelah selesai melakukan wawancara dengan pak Muji kami pamit dan berkumpuk di homebase untuk jalan ke tempat makan siang yaitu Nasi Bakar Organik. Tempatnya lumayan jauh, melewati embung yang inginnya besok akan dikunjungi untuk melihat sunrise. Tempat Nasi Bakar Organik sangatlah enak, dikelilingi sawah, dengan udara yang sejuk. Aku memesan Nasi Bakar Ayam Kampung yang harganya hanya 10rb. Rasanya MAKNYUSSS tapi porsinya dikit. Enaknya enak sekali sehingga setelah selesai aku dan beberapa teman lain menambah karena masih lapar.

Nasi Bakar Ayam Kampung... NIKMAAT

Nasi Bakar Ayam Kampung… NIKMAAT

Sambil makan porsi pertama kakak-kakak fasilitator memulai diskusi tentang apa saja yang ingin dilakukan ketika pulang, rencana dan sebagainya. Aku merencanakan untuk membuat sebuah infografis dan artikel tentang Ketela dan Mie Lethek. Kami disini juga becanda-canda terutama dengan kamera untuk mendapatkan foto aib dari kawan-kawan yang ada 😛

Lanjut Bikin Tempe

Selesai makan kami kembali ke rumah bu Cicil untuk menyelesaikan pembuatan tempe yang sudah kami mulai tadi pagi. Kita akan melihat bagaimana cara meragi menggunakan ragi usar lalu cara melipat tempe dengan benar.

Ragi Ussar adalah ragi tempe yang bu Cicil juga kurang tahu awalnya bagaimana, tapi sekarang dipakai untuk ragi tempe. Ragi Ussar menggunakan daun Waru yang sudah diberikan jamur. Cara penggunaannya hanya tinggal di usap-usapkan ke kedelainya sampai rata agar jamurnya pindah.

Setelah itu kami mengaduk-aduk agar jamurnya mencampur dan mulai tumbuh. Kami lalu diberi tahu cara melipat daun pisang dengan baik dan kami mulai balap-balapan untuk membuat tempe terbanyak 😛

Mempelajari cara melipat dan membuat tempe

Mempelajari cara melipat dan membuat tempe

Diskusi Terakhir

“eh din lu udah minta tolong ditransfer lagi belum biar nambah? Kita semua udah lho” kami candakan ke Adinda malam itu karena teman baik apa yang belum membully temannya :D. Kami kumpul pukul 7 di homebase untuk menulis logbook dan jurnal sekaligus membicarakan tentang kegiatan hari ini. Setelah agak malam dikit kami disuruh berkumpul untuk menyampaikan saran kesan dan menuliskan tentang kelemahan dan kekuatan teman dan sendiri.

Aku kedapatan saran dari Fattah untuk lebih banyak bersepeda :P. Malam ini aku juga merasa agak sentimential karena sudah tinggal malam ini kami menginap di luar kota, besok kami sudah akan tidur di kamar masing-masing…

Diskusi Terakhir

Diskusi Terakhir

 

[Bersambung]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *